Pernah nggak kamu lihat produk herbal yang promosinya heboh banget di media sosial, katanya langsung menyembuhkan ini-itu, tapi kamu ragu: produk ini aman nggak ya? Kamu nggak sendirian. Dalam beberapa bulan terakhir, BPOM rutin mengumumkan penarikan produk herbal ilegal yang terbukti mengandung bahan berbahaya atau membuat klaim berlebihan. Sayangnya, masih banyak pembeli yang baru sadar setelah produknya bermasalah — atau setelah uangnya melayang.
Kabar baiknya, produk herbal legal itu selalu meninggalkan jejak: ada di labelnya. Artikel ini akan membahas 5 hal di label yang wajib kamu cek sebelum memutuskan membeli produk herbal apa pun, baik itu cuka fermentasi, suplemen, maupun minuman kesehatan.
Kenapa Cek Izin BPOM Itu Penting?
BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) adalah lembaga yang bertugas memastikan produk yang beredar di Indonesia aman, bermutu, dan tidak menyesatkan. Produk yang sudah punya izin edar BPOM artinya telah melalui proses evaluasi keamanan dan mutu. Sebaliknya, produk ilegal — yang tidak punya izin edar — belum tentu aman: bisa mengandung bahan terlarang, dosis tidak tepat, atau diproduksi tanpa standar kebersihan yang jelas.
Bukan cuma soal legalitas. Dengan mengecek izin edar, kamu melindungi diri dari produk yang bisa membahayakan ginjal, hati, atau organ lain. Jadi langkah ini bukan formalitas — ini bentuk kehati-hatian yang wajar.
1. Cari Nomor Izin Edar BPOM
Ini yang paling utama. Setiap produk pangan, suplemen, obat tradisional, dan kosmetik yang legal di Indonesia wajib mencantumkan nomor izin edar BPOM di kemasannya. Bentuknya kira-kira seperti ini:
- Pangan olahan: POM MD (produksi dalam negeri) atau POM ML (impor), contoh: POM MD 123456789012
- Suplemen kesehatan: POM SD atau POM SL
- Obat tradisional / jamu: POM TR atau POM TL
- Kosmetik: POM NA atau POM NB
Kalau di kemasan tidak ada nomor izin edar sama sekali, itu tanda bahaya. Kamu juga bisa verifikasi langsung lewat situs resmi cekbpom.pom.go.id — masukkan nomornya, dan lihat apakah produk tersebut benar-benar terdaftar atas nama yang sesuai.
2. Pahami Kategori Produknya
Nomor izin edar juga menunjukkan kategori produk. Ini penting karena cara evaluasinya beda-beda. Produk dengan klaim kesehatan harus terdaftar sebagai suplemen kesehatan atau obat tradisional, bukan sekadar pangan olahan biasa. Misalnya, cuka fermentasi yang diklaim punya manfaat kesehatan tetap dievaluasi sebagai pangan olahan — dan klaimnya harus sesuai batas yang diizinkan. Kalau ada produk pangan biasa tapi mengklaim bisa menyembuhkan penyakit, kamu patut curiga.
3. Cek Logo Halal dan Tanggal Kedaluwarsa
Mulai Oktober 2026, produk yang beredar di Indonesia wajib bersertifikat halal — dan logo halal resmi (dari BPJPH Kemenag) sudah jadi salah satu penanda produk yang dikelola dengan serius. Pastikan juga tanggal kedaluwarsa masih jauh. Produk herbal fermentasi seperti cuka memang punya masa simpan panjang, tapi tetap ada batasnya. Kemasan yang rusak, penyok, atau tanggal yang sudah lewat = jangan dibeli.
4. Waspadai Klaim yang Berlebihan
Produk herbal yang bagus itu jujur. Waspadai produk yang berjanji 'sembuh seketika', 'menyembuhkan segala penyakit', atau memakai kata-kata seperti '100% aman tanpa efek samping' — klaim semacam ini justru sering menjadi ciri produk ilegal. BPOM sendiri rutin memperingatkan bahaya klaim berlebihan produk herbal yang beredar online. Produk yang legal menyampaikan manfaat secara wajar, tanpa melebih-lebihkan.
5. Beli di Toko atau Situs Resmi
Terakhir, perhatikan dari mana kamu membeli. Produk herbal sebaiknya dibeli dari penjual resmi: toko resmi merek tersebut, marketplace dengan penjual terverifikasi, atau situs web resminya. Hindari membeli dari akun yang tidak jelas asal-usulnya, apalagi yang menjual dengan harga jauh di bawah normal. Penjual resmi juga bisa memberikan informasi produk yang akurat dan layanan purna jual.
Mulai dari Produk yang Sudah Jelas Izinnya
Kalau kamu sedang mencari produk herbal fermentasi yang aman dan sudah berizin, kamu bisa mulai dari Cukakamu Nanas — cuka nanas fermentasi alami dari Digi Herba Nusantara — atau Cukakamu Kurma untuk varian dari kurma pilihan. Keduanya adalah produk pangan olahan yang diproduksi dengan standar kebersihan dan mencantumkan informasi lengkap di labelnya, jadi kamu bisa langsung praktikkan tips di atas. Buat kamu yang masih ragu membedakan produk asli dan palsu, baca juga panduan kami soal cara membedakan cuka nanas asli dan palsu.
Disclaimer: Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan pengganti nasihat medis. Produk pangan fermentasi seperti cuka bukanlah obat dan tidak dimaksudkan untuk mendiagnosis, mengobati, atau menyembuhkan penyakit apa pun. Konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan sebelum mengonsumsi produk apa pun, terutama jika kamu punya kondisi medis tertentu atau sedang hamil/menyusui.