Banyak keluarga di Indonesia menjalankan kebiasaan mencukur habis rambut bayi baru lahir — sebagian karena tradisi, sebagian lagi karena percaya rambutnya nanti tumbuh lebih tebal dan lebat. Pertanyaannya: benarkah cukur rambut bayi bikin lebat, atau ini sekadar mitos yang diwariskan turun-temurun?

Kalau Anda sedang mempertimbangkan untuk menggunduli si kecil, artikel ini akan mengupas fakta di balik kebiasaan tersebut menurut pandangan medis, plus cara merawat rambut bayi yang benar supaya kulit kepalanya tetap sehat.

Dari mana asalnya kepercayaan cukur rambut bayi bikin lebat?

Kepercayaan ini sudah mengakar kuat. Ada beberapa alasan kenapa banyak orang melakukannya:

  • Tradisi dan nilai budaya — mencukur rambut bayi di hari ketujuh atau saat acara aqiqah adalah kebiasaan yang umum di banyak daerah, sekaligus punya makna doa dan syukur.
  • Alasan kebersihan — sebagian bayi lahir dengan rambut tipis dan kulit kepala yang masih ada kerak atau sisa ketuban, sehingga orang tua merasa lebih mudah merawatnya setelah digundul.
  • Kesan "rambut baru lebih tebal" — setelah digundul, rambut bayi tumbuh bersamaan sehingga terlihat rata dan lebih tebal. Padahal yang berubah hanya penampilannya, bukan jumlah folikelnya.

Kesan terakhir inilah yang membuat mitos ini terus bertahan. Begitu rambut baru tumbuh serempak dan rapi, banyak orang menganggap cukur rambut bayi bikin lebat — padahal itu hanya ilusi karena ujung rambut yang baru tumbuh sama panjangnya.

Apa kata dokter? Cukur rambut tidak menambah ketebalan rambut

Menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski), ketebalan dan pertumbuhan rambut bayi ditentukan oleh faktor genetik dan perawatan — bukan oleh pencukuran. Beberapa fakta yang perlu diketahui orang tua:

  • Jumlah folikel rambut sudah ditentukan sejak lahir. Mencukur hanya memotong batang rambut di permukaan kulit, tidak menambah folikel baru di kulit kepala.
  • Rambut bayi baru lahir sering rontok di usia 3–4 bulan. Ini normal. Rambut lama digantikan rambut baru yang teksturnya bisa berbeda — lebih tebal, lebih halus, atau warnanya berubah.
  • Yang berubah setelah digundul hanya tampilan ujung rambut. Potongan baru membuat rambut terlihat lebih merata, tetapi ketebalan aslinya tetap mengikuti genetik dan kondisi kesehatan si kecil.

Jadi, kalau tujuannya hanya supaya rambut lebih lebat, mencukur bukan cara yang terbukti secara medis. Yang lebih penting adalah merawat kulit kepala dan rambut bayi dengan cara yang benar sejak awal.

Kalau tetap ingin mencukur, lakukan dengan aman

Mencukur rambut bayi sah-sah saja selama dilakukan dengan aman dan nyaman untuk si kecil. Ikuti panduan berikut:

  • Tunggu kondisi kulit kepala sehat. Hindari mencukur saat ada ruam, kerak menebal, atau luka di kulit kepala.
  • Gunakan alat yang bersih dan steril. Pisau cukur sekali pakai atau clipper khusus bayi lebih aman daripada alat bekas yang tidak diketahui kebersihannya.
  • Pilih waktu bayi tenang. Lakukan saat bayi kenyang dan tidak rewel, atau minta bantuan orang lain memegang bayi dengan aman.
  • Jangan memaksakan. Kalau bayi menolak, lebih baik tunda dan ulangi di lain waktu daripada memaksa.
  • Setelah dicukur, jaga kelembapan kulit kepala dan hindari paparan sinar matahari langsung pada kulit kepala yang baru gundul.

6 cara merawat rambut bayi yang benar dan aman

Alih-alih mengandalkan cukur, perawatan rutin berikut lebih membantu menjaga kulit kepala dan rambut bayi tetap sehat:

  • Keramas dengan lembut 2–3 kali seminggu menggunakan sampo khusus bayi, lalu bilas sampai bersih. Pijat kulit kepala dengan ujung jari secara perlahan saat keramas.
  • Sisir dengan sikat bulu lembut untuk melatih kulit kepala dan merapikan rambut tanpa menarik.
  • Jaga kelembapan kulit kepala dengan minyak atau serum perawatan bayi yang ringan dan bebas bahan keras.
  • Hindari produk orang dewasa. Sampo, pewarna, atau minyak rambut dewasa bisa terlalu kuat untuk kulit kepala bayi.
  • Dukung asupan nutrisi ibu menyusui dengan pola makan bergizi seimbang, karena tumbuh kembang bayi termasuk rambutnya dipengaruhi kondisi tubuh secara keseluruhan.
  • Hindari mengikat rambut bayi terlalu kencang atau memakai aksesori yang menarik kulit kepala.

Untuk perawatan rambut bayi sehari-hari, Arfa Hair Nourish Oil Serum diformulasikan dengan bahan yang lembut untuk kulit kepala bayi — cukup beberapa tetes, dipijat perlahan, dan dijadikan bagian dari rutinitas perawatan yang menyenangkan.

Kapan harus konsultasi ke dokter anak?

Meski rambut bayi tipis adalah hal yang normal, ada beberapa kondisi yang sebaiknya diperiksakan ke dokter anak atau dokter kulit:

  • Rambut tidak tumbuh sama sekali di usia tertentu atau muncul bercak botak yang makin meluas.
  • Kulit kepala terlihat merah, bengkak, bersisik berlebihan, atau ada kerak yang tidak membaik.
  • Bayi tampak tidak nyaman, sering menggaruk, atau rambut rontok berlebihan di luar pola normal.

Dokter bisa membantu memastikan tidak ada kondisi medis yang mendasarinya, sehingga perawatan yang diberikan pun tepat sasaran.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti nasihat medis profesional. Setiap produk perawatan memiliki fungsi masing-masing; konsultasikan dengan dokter anak sebelum menggunakan produk baru pada bayi, terutama jika kulit si kecil sensitif atau memiliki kondisi khusus.